Hening. Dia menatapku beberapa jenak, aku dan ego-ku yang bertanya, sore itu…
“Zain tahu kalkulus?”
Ah, retoris.
Dia sudah tahu jawabannya. Dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata, aku yakin dia pun masih ingat pernah dengan emosinya membuatku tertunduk semakin malu. Dia mendapati nilai nol untuk ulangan matematika-ku di caturwulan 1 tahun 1999.
“Kamu jangan malu-maluin orang serang, nal. Kakak(kelas)-mu ini menang olimpiade matematika. Masa kamu dapat ulangan nol,” begitu ceramahnya di depan teman-teman seangkatanku dulu. Sebagian dengan nada humor, sebagian besarnya lagi serius.
Dan dia memang tak perlu menunggu jawabanku. Dia hanya menarik nafas sebelum meneruskan penjelasannya. Penjelasan atas jawaban dari sekian pertanyaanku sore itu.
“Dalam kalkulus dasar, dikenal bahasan tentang dunia bilangan. Dan Zain tahu, sebetulnya dalam dunia bilangan, hanya dikenal satu jenis bilangan saja; bilangan kompleks,” tuturnya. Perlahan, seperti menjelaskan rumus kepada anak SD.
Terus terang saja, meski aku sudah berstatus mahasiswa semester 3, tak pernah terlintas Continue reading
