Monthly Archives: March 2014

HONG! (ketemu!)

“Di Banten, persisnya di masyarakat Baduy, anak-anak tidak bermain. Mereka bekerja.”

Kacamataku melorot beberapa mili. Jari terampilnya terus menganyam janur. Ia tahu, meski di awal perkenalan aku sudah memperkenalkan diri sebagai orang banten asli, besar kemungkinan wawasan soal permainan tradisionalku masih cetek. Tanpa niat dan kesan merendahkan dangkalnya wawasanku akan tradisi dan budaya leluhurku sendiri, Kang Zaini menyambung tuturannya.

“Istilah kaulinan (permainan) yang lazim bagi masyarakat sunda, tidak dikenal di Baduy. Untuk menunjuk anak-anak yang sedang ‘bermain’, masyarakat Baduy menyebutnya ‘gawe‘ (kerja), atau ‘pagawean budak’ (kerjaan anak-anak),” ujar sosok yang istiqamah mendalami permainan tradisional secara praktis maupun  ilmiah ini. Anyaman janurnya sudah hampir jadi. Bentuknya kini sudah jelas; belalang. Sekilas mengingatkanku pada ‘Belalang-Tempur’ milik Kotaro Minami.

Kebetulan Kang Zaini bilang, ia belajar ‘menganyam-belalang’ itu ketika ia di Jepang beberapa waktu yang lalu. “Saya belajar di Jepang, dan orang Jepang juga mempelajari permainan tradisional serta seni anyaman nusantara dari kita. Kita tuker ilmu lah.” Seorang ibu yang sedari tadi ikut mengamati, memintanya untuk membuat satu belalang lagi. Ndak ada masalah, belalang pun jadi dalam sekejap.

Aku nyengir. Bikin ketupat saja sering tak becus jadinya.

Anak-anak muda, orang tua dan putra-putrinya, hingga bocah-bocah yang berinisiatif sendiri, mencoba beberapa permainan yang pagi itu dihadirkan Komunitas Hong–komunitas yang dirintis Kang Zaini sejak tahun 2003 dan kini berpusat di Dago Pakar. Ada bedil karet/jepret dan bedil lontar, jajaranan, bola takraw, kereta dorong, engklek, congklak, dan beberapa lagi yang tidak aku hapal namanya. Masyarakat yang bersiuran di Car-Free Day Dago seperti tidak mau ketinggalan bernostalgia atau mencoba memperkenalkan permainan yang dulu digelutinya di kampung kepada anak-anak mereka.

Aku ikut mencoba beberapa. Hasilnya? Rasanya, aku masih belum kehilangan sentuhan. Anak-anak itu ndak ada yang bisa mengalahkanku.. Hahhah.

***

Kang Zaini sering bercanda, tubuhnya pendek karena Continue reading

Nasib Layanan Publik di Tahun Politik

Setiap datang Tahun Politik, ada corak yang berulang. Masyarakat khawatir terhadap kualitas layanan publik yang semakin buruk, kalau tidak dikatakan terbengkalai. Kecemasan tersebut didasari oleh persepsi bahwa para pejabat (baik politik maupun struktural) akan lebih sibuk oleh urusan kampanye, pemilu, dan agenda-agenda yang menyertainya. Pelayanan publik akan menjadi prioritas ke sekian. Benarkah?

Di tahun 2014, anggaran Komisi Pemilihan Umum (KPU) membengkak dari 8,49 triliyun Rupiah di tahun 2013 menjadi 15,4 triliyun Rupiah. Kenaikan disebabkan meroketnya belanja barang hingga dua kali lipat. KPU tahun ini akan menghabiskan kurang lebih 15 triliyun Rupiah untuk diantaranya Pengelolaan Data, Dokumentasi, Pengadaan, Pendistribusian, dan Inventarisasi Sarana dan Pra Sarana Pemilu serta pengadaan Pedoman dan Petunjuk Teknis, kegiatan Bimbingan Teknis, Supervisi, Publikasi, Sosialisasi, serta Penyelenggaraan Pemilu dan Pendidikan Pemilih.

Anggaran Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) sebesar 856 milyar Rupiah di tahun 2013, juga mengembung hingga Continue reading

Kekeliruan yang Menggerakkan

Kau protes ketika aku keliru menyebut namamu. Kaget. Bukan soal kau tegur aku karena penyebutan nama yang salah. Toh, aku juga sering melakukannya. Orang-orang pun sering serampangan mengucapkan atau menuliskan namaku. Saya terhenyak, karena baru menyadari selama ini saya ndak ngeh kalau keliru.

Terberkatilah orang yang salah ketika belajar.. 🙂

Lantaran namamu yang unik itu, aku sempat penasaran. Tak ada informasi dari bahasa apa namamu dinukil. Jadi, sembarang saja kutanya pada orang yang ahli berbahasa arab. Katanya, namamu–yang aku kutip secara keliru itu–yang agak mendekati artinya adalah: “menggerakkan“.

Cocok. Kupikir namamu memang Continue reading