“Di Banten, persisnya di masyarakat Baduy, anak-anak tidak bermain. Mereka bekerja.”
Kacamataku melorot beberapa mili. Jari terampilnya terus menganyam janur. Ia tahu, meski di awal perkenalan aku sudah memperkenalkan diri sebagai orang banten asli, besar kemungkinan wawasan soal permainan tradisionalku masih cetek. Tanpa niat dan kesan merendahkan dangkalnya wawasanku akan tradisi dan budaya leluhurku sendiri, Kang Zaini menyambung tuturannya.
“Istilah kaulinan (permainan) yang lazim bagi masyarakat sunda, tidak dikenal di Baduy. Untuk menunjuk anak-anak yang sedang ‘bermain’, masyarakat Baduy menyebutnya ‘gawe‘ (kerja), atau ‘pagawean budak’ (kerjaan anak-anak),” ujar sosok yang istiqamah mendalami permainan tradisional secara praktis maupun ilmiah ini. Anyaman janurnya sudah hampir jadi. Bentuknya kini sudah jelas; belalang. Sekilas mengingatkanku pada ‘Belalang-Tempur’ milik Kotaro Minami.
Kebetulan Kang Zaini bilang, ia belajar ‘menganyam-belalang’ itu ketika ia di Jepang beberapa waktu yang lalu. “Saya belajar di Jepang, dan orang Jepang juga mempelajari permainan tradisional serta seni anyaman nusantara dari kita. Kita tuker ilmu lah.” Seorang ibu yang sedari tadi ikut mengamati, memintanya untuk membuat satu belalang lagi. Ndak ada masalah, belalang pun jadi dalam sekejap.
Aku nyengir. Bikin ketupat saja sering tak becus jadinya.
Anak-anak muda, orang tua dan putra-putrinya, hingga bocah-bocah yang berinisiatif sendiri, mencoba beberapa permainan yang pagi itu dihadirkan Komunitas Hong–komunitas yang dirintis Kang Zaini sejak tahun 2003 dan kini berpusat di Dago Pakar. Ada bedil karet/jepret dan bedil lontar, jajaranan, bola takraw, kereta dorong, engklek, congklak, dan beberapa lagi yang tidak aku hapal namanya. Masyarakat yang bersiuran di Car-Free Day Dago seperti tidak mau ketinggalan bernostalgia atau mencoba memperkenalkan permainan yang dulu digelutinya di kampung kepada anak-anak mereka.
Aku ikut mencoba beberapa. Hasilnya? Rasanya, aku masih belum kehilangan sentuhan. Anak-anak itu ndak ada yang bisa mengalahkanku.. Hahhah.
***
Kang Zaini sering bercanda, tubuhnya pendek karena Continue reading