Monthly Archives: April 2017

Obituari

Harriet (on radio): “Please don’t have a nice day.

Have a day that matters. Have a day that’s true. Have a day that’s direct. Have a day that’s honest. A nice day? Mm-mmm, you’ll be miserable.

Have a day that means something.”

(The Last Word, 2017)

Ada momen di mana kita terjebak dalam sebuah situasi dan tidak bisa lagi menghindar. Walau bagaimana pun kita sudah berusaha mengantisipasinya.

Salah satunya pada saat diprospek pejuang MLM.

Karena mulai terbiasa diprospek selama di kampus, jawaban standar saya kalau ditanya tentang rencana hidup atau mimpi–halaman pertama dari sesi panjang prospek MLM–adalah mengembangkan diri semaksimal mungkin. I want to live up to my full potential..

Pilihan yang sepertinya lebih netral dibanding jawaban “pengin kaya”, “punya klub bola”, “mengelola wisata di pulau sendiri”, atau “jadi Sulthan Banten”. Opsi jawaban yang juga bisa jadi barrier jitu biar sesi-nya kelar lebih cepat–walaupun pada gilirannya selalu tetap bisa disambung-kaitkan dan selesai minimal 2 jam kemudian.

Jangan tanya saya jadi gabung MLM atau ndak. Saya cuma mau bilang, jawaban saya di atas sebenarnya jawaban yang sudah dipikirkan sejak lama. Jauh sebelum mengenal MLM, PS 2, Nokia 3310, dan Bambang Pamungkas. Kalau ada yang datang ke saya dengan soal serupa–entah kader MLM, agen sepakbola, pansel beasiswa, timses ta’aruf–respon saya akan tetap sama.

Sekarang, terus terang, saya makin Continue reading