Monthly Archives: September 2012

Kerinduannya, Kerinduanku, dan Kerinduan Kita (2)

Jelang dzuhur, menyelip di antara kelindan kelakuan di Nusantara 1, bilik 1315.

Nomor Teteh di Madinah yang telah ku beri identitas ahad kemarin menyalak-menyeruakkan pesan singkat. Tertegun. Bukan isi pesan yang ku duga atau ku harapkan.

Ditngh kramaian, diri mrasa sunyi, tk bdaya. cm bs protes kras mlihat byk hal error. error intelektual, moral, spiritual. duhai ahli ilmu pmrintahn, tlg beri saran…”

Setelah menaruh punggung di sandaran kursi, tiba-tiba aku teringat saat-saat kami pernah berdiskusi cukup serius tentang partai. Aku juga bercerita tentang lembaga negara tempat aku banyak menghabiskan waktu hampir 2 tahun ke belakang. Aku juga beberapa kali menggerutu di depannya soal apa saja yang aku anggap ‘kerusakan’ di negeri ini. Aku sampaikan hasil pengamatan dan simpulanku yang dangkal, kegundahan, dan kegeramanku.

Aku tak punya punya cukup kapasitas untuk juga menyodorkan solusi dari masalah-masalah yang kuanggap menggangu itu. Obrolan kami sebatas demonstrasi sok-tahu-ku soal situasi dan kondisi negeri ini, kejengkelanku, dan barangkali upayaku (yang sia-sia) untuk ‘mensucikan-diri’ dengan nampak berlepas dari kebobrokan sistem yang ada.

Jadi, pada waktunya aku dimintai saran, tentu saja aku hanya tersenyum masam. Ini seperti memarahi diri sendiri yang tuli.

Eh, aku agaknya terlalu besar rasa. Teteh minta saran kepada ahli pemerintahan. Aku?

Aku yang suka sok-tahu, juga tak ingin membuat Teteh kecewa karena pesan singkatnya tak berbalas. Kurang lebih, dengan gaya bijak yang dibuat se-arif mungkin, aku mengirimnya pesan balasan. “….Teh, dalam politik-pemerintahan (dan ade pikir juga pada banyak bidang ilmu lain) ada aspek seni. Secara sederhana, mungkin bisa dimaknai sebagai upaya kita menyampaikan pesan dan maksud pesan dengan cara yang elegan. Agak sulit memang, terutama jika sejak tatar filosofis kita masih belum ‘selesai’…”

Dengan imbuhan kecil, aku sampaikan bahwa aku juga masih berproses. Aku hanya bisa menambah semangatnya, untuk tidak menyerah berbuat dan memberikan manfaat sekecil apapun. Cliche..

Lepas memberi ‘saran’ seperti itu, aku kembali tertegun. Apa ini berpotensi kaburo maktan ‘indallah…? Mudah-mudahan, tidak. A’udzublillah.

Ponselku bergetar lagi beberapa jenak kemudian. Pesan balasan dari Teteh:

“Sykrn ats saranny, de. tth cm rindu sosok2 aspiratif tp jg akomodatif n koperatif. jenuh dg yg royal kata miskin aksi. n bgmn hti tdk miris, jk di tanah suci ada bibir mngucap, ‘mas, bobo di atas aja. disana jauh.’ pdhl mrk bkn suami-istri. ribut dg hal2 kecil, smisal mkn dg box. luput thdp hal2 yg jauh lbh prinsipil…”

Teteh sayang, rasa rindumu, rinduku, sama. Dan aku masih yakin, banyak orang yang–baik terang-terangan ataupun diam-diam–juga memiliki kerinduan yang seperti kita miliki.

Semoga Yang-Maha-Menjawab-Kerinduan senantiasa menjagamu di sana..

Kerinduannya, Kerinduanku, dan Kerinduan Kita

Ahad kemarin, persis setelah tergelincirnya matahari, ada notifikasi ku dapati di telepon genggamku; Panggilan terputus 4 kali dari nomor yang sama.

Nomor yang tidak ku kenal. Digit awal yang biasanya menjadi petunjuk operator atau kode negara asal telepon juga asing buatku. Bukan Mesir, bukan Jerman, bukan Singapura, yang jelas bukan dari dalam negeri.

Aku memang tak sempat mengangkat panggilan, karena telepon ku tinggal di kamar dan ku atur dalam posisi hening. Sengaja, untuk meluangkan diri sendiri.

Menjelang maghrib Samsung Duos GT-E2652W-ku menjerit. Panggilan masuk dari nomor serupa. Aku sudah punya ‘kecurigaan’ sendiri sebetulnya. Kebetulan juga ada kabar yang ku tunggu.

Suara di ujung telpon menjawab penantian. Alhamdulilah. Teteh membagi kabar dari Madinah; Sudah tiba beberapa hari yang lalu, masih banyak menunggu, makan, dan tidur sementara menunggu jamaah dari Indonesia, agak sedikit flu karena proses adaptasi iklim dan cuaca, bertanya soal kloter yang mengantar Papa Diqi dan rombongan yang mungkin akan membawa titipan dari rumah, mengabsen kabar semua personil di rumah (sayangnya aku sedang ndak di Serang), memastikan bahwa nomor yang digunakan untuk menghubungiku ini bisa dipakai sebagai kontaknya selama di Madinah, dan menyelipkan salam untuk ku bawa pulang ke Carenang.

Aku senang, kami sekeluarga senang, karena Teteh sudah tiba dengan selamat dan siap menunaikan rukun kelima yang sudah lama direncanakan. Meskipun ‘menyambi’ sebagai petugas haji musiman.

Yang lebih berat sebetulnya situasi dimana Teteh mesti meninggalkan Yumna, Yusuf, dan si kecil Khalil selama lebih dari 2 bulan ke depan di Cairo. Walaupun ada Abi yang mengasuh, tentu keberadaan Umi tetap tidak tergantikan buat anak-anak. Sebaliknya, tidak mudah juga buat Teteh berpisah jauh dari 3 mata hatinya.

Aku berdo’a, kami sekeluarga berdo’a, semoga Allah tetap menjaga Teteh selama dijamu-Nya di tanah suci. Semoga ibadah Teteh dapat dijalankan dengan baik, Semoga kami juga kelak dapat memenuhi kerinduan; menyusulnya menunaikan haji di kesempatan mendatang..

Efek Barnum

Niat sudah lama dipancangkan. Sejak bulan Rajab, saya memang sudah berazzam untuk silaturahim kali ini. Tapi dasar pengrajin alasan, saya selalu punya cara membatalkannya. Tapi, hari ke-4 syawal tahun ini saya sudah merasa tidak enak lagi untuk mengelak dan membuat-buat alasan. Lagipula, saya masih percaya pada kuwalat; Jangan-jangan saya kebagian bala karena berani menyepelekan tekad. Apalagi tekad yang baik.

Se-rasional-rasionalnya saya, ada beberapa warisan primordial yang tetap melekat. Beberapa itu mungkin tidak banyak (yang terjangkau kesadaran saya). Salah satunya ya soal kuwalat tadi.

Dampaknya, saya seringkali sulit menerima penjelasan tradisional tanpa pembuktian empirikal atau alur penjelasan yang logis. Termasuk, untuk misi kali ini. Ditemani teman SD, kami menyusuri jalan pabuaran menuju satu tempat yang belum pernah kami datangi. Modal kami hanya nama si empunya dan sedikit ingatan teman SD saya yang katanya pernah ditunjuki orang gang jalan masuk menuju kediaman beliau.

Kami pun sempat nyasar dan menyadari dalam perjalanan pulang bahwa gang jalan itu sudah kami lewati 3 kali sebelumnya. Singkat cerita, dengan bertanya sana dan sini, kami sampai di pondokan Abah Munfasir di daerah Burugbug, Padarincang (aku sengaja tak menyebutnya dengan KH atau Kyai sebagaimana umumnya ulama di Banten untuk memangkas ‘jarak’ yang menurutku tak perlu).

Kediaman atau Pondokan Abah sebetulnya tidak sulit dicapai. Jalan masuk yang menghubungkan jalan raya ke dalam sudah beraspal, mulus. Bahkan aspal masuk hingga tepi pondok dari pinggir jalan. Ada papan peringatan; tamu wanita dilarang mendekat, hanya menerima tamu laki-laki. Pondokan santri-santrinya (yang kami lihat tidak banyak) memang sangat sederhana. Ada kebun ubi dan palawija yang menjadi bahan konsumsi santri sehari-hari. Menurut keterangan Abah sendiri, dengan Rp. 10.000, setiap santri bisa hidup selama sebulan dengan mengandalkan hasil tanaman sendiri. Beberapa kabar kami dengar, untuk menjadi salah seorang santri Abah dan mendalami tasawuf di sana, ada ketentuan untuk berpuasa selama 11 hari berturut-turut dengan ifthar hanya segelas air putih (tidak ada makan lagi).

Sampai detik tiba di depan pondokannya, saya masih menyimpan dalam benak: Meski ekspektasi untuk menemukan jawaban komprehensif sangat tinggi, tidak perlu berharap terlalu banyak dari pertemuan ini.

Niatkan saja, satu, untuk silaturahim, kedua, meminta nasihat kepada yang kita anggap orangtua, dan terakhir meminta do’a dari ‘abid yang ibadahnya terjaga dan insya Allah munajatnya lebih makbul. Nah, tidak ada yang aneh, kan? Persoalan ‘rumit’ dalam pikiranmu itu tidak harus selesai sekali dengan silaturahim kali ini. Kalaupun ada nasihat yang kau terima dan menurut kau itu baik, kemungkinan besar, secara ilmiah, itu adalah Efek Barnum. Tidak perlu berlebihan. Tanggapan berlebihan biasanya malah bikin program perbaikan diri kita jadi lebih berdasar emosi, tidak sampai menyentuh akal paling dalam. Akhirnya terus saja fluktuatif, kambuhan.

Saya ingin menyegarkan sedikit soal Efek Barnum ini (atau juga dikenal sebagai Efek Forer, diambil dari nama psikolog yang mengembangkannya). Efek Barnum adalah fenomena dimana orang cenderung menerima pernyataan-pernyataan ambigu, samar-samar, dan umum sebagai deskripsi akurat atas kepribadiannya sendiri (Dickson & Kelly, 1985). Kata-kata terkenal Barnum, “We’ve got something for everyone.

Misalnya, ketika kita mendapati ramalan zodiak, perkataan orang yang membaca tulisan tangan kita, telapak tangan, raut wajah, ampas kopi atau teh, atau SMS kiriman dari program SMS premium dari para-normal tertentu. Deskripsi yang kita terima biasanya kita anggap sangat menggambarkan diri kita (“Pas gue banget, nih!”). Namun, jika kita cermati, pernyataan itu biasanya multi-makna atau berlaku umum.

Jika anda berjuang dan berdo’a lebih keras, maka apa yang anda inginkan akan tercapai. Jangan putus asa.”

“Hati-hati dengan kesehatan anda. Perbanyaklah olahraga.”

“Anda perlu membuka diri. Jangan tolak uluran silaturahim yang datang.”

“Asmara anda menuntut kesabaran. Tetaplah berpikir positif kepada si dia.” Dst, dst, dst….

Menurut teori ini, secara umum, kita memang senang (dan selalu haus) perhatian dari orang lain. Ketika ada pernyataan umum yang diucapkan di depan kita atau kita dengar/baca langsung seakan-akan itu ditujukan untuk kita dan kita terima dengan terbuka sebagai gambaran akurat tentang diri. Agaknya, Efek Barnum ini tidak hanya diidap di tingkat individual. Masyarakat kita ketika mendengar ceramah dan janji para elit juga ternyata sering terkecoh.

Tidak ada maksud saya menyamakan Abah Munfasir dengan para peramal-peramal itu. Saya hanya ingin menekan ekspektasi saya. Saya tidak ingin emosional menanggapi apapun yang saya akan dapatkan dari pertemuan hari ini dengan Abah.

Saya rapalkan berulang-ulang  3 maksud saya datang menemuinya. Tidak lebih, saya akan cukup senang jika bisa bersilaturahim (berharap ada keberkahan dari Allah yang saya dapat), mendapatkan nasihat (agama adalah nasihat. Apapun yang mengingatkan kita untuk dekat dengan Allah tentu baik), dan dido’akan oleh Abah (Do’a ahli ibadah tentu mudah diijabah). Soal ruwetnya pikiran yang saya permasalahkan, mungkin tidak cukup dengan 1-2 kali pertemuan dengan Abah atau orang yang saya tuakan lainnya. Mungkin proses yang lebih panjang yang akan menjawabnya.

Namun, hari itu semua yang saya percayai agaknya berbalik kepada diri sendiri. Lepas saya memperkenalkan diri kepada Abah dan sedikit intro, Abah langsung memberikan nasihat. Nasihat yang pada mulanya aku pikir hanya akan memercikkan Efek Barnum.

Tapi, nyatanya tidak. Rasanya tidak. Pesan Abah sudah terlalu spesifik.

Banyak hal yang ternyata belum bisa aku jangkau dengan nalarku pasca silaturahim dengan Abah. Pertemuan yang mudah, nasihat pertama, semua perbincangan Abah selama kurang lebih 40 menit (mulai dari situasi politik, sosial, moral, pekerjaan), gubuk sederhana Abah di samping rumah bagus yang ditempati keluarganya, penghindaran Abah ketika ada tamu wanita, keputusan Abah untuk memutuskan obrolan untuk menambah raka’at shalatnya yang dikatakannya banyak tertinggal, dan masih banyak lagi.

Aku hanya sisakan kesan untuk dibawa pulang; Sederhana. Kemewahan yang entah bagaimana selalu aku rindukan..

Government Buy The People

Anda tidak salah baca. Saya juga rasanya tidak salah ketik.

Awalnya–mungkin juga sama dengan anda sehingga persepsi kita sama-sama terpengaruhi oleh ekspektasi serupa–saya sendiri berharap makna yang kita dapat dari demokrasi yakni masyarakat (yang) benar-benar berdaulat. Urusan bersama dikelola sesuai kehendak dan keterlibatan orang banyak.

Maaf, tepikan dahulu silang pendapat soal masyarakat atau orang banyak seperti apa, yang mana, dan seterusnya. Sebab, rasanya kita sepakat dalam dosis teori demokrasi, masyarakat, mayoritas, atau orang banyak adalah kiblat. Dan pemerintah (mestinya) adalah sekedar alat, pelayan. Sehingga kemudian, singkat dan megahnya lahirlah pameo: “….government by the people”.

Menjadikan masyarakat sebagai kiblat ini nyatanya memang belum jadi anugerah sebagaimana yang kita munajatkan bersama. Lebih kerap, karena meletakkan masyarakat pada derajat yang paling tinggi kita lantas tiba-tiba merasa seperti sendiri, sedikit, gemas, lantas mengutuk-ngutuk kelompok yang lebih banyak itu. Kita merasa tertimpa musibah.

“Dasar kalian orang banyak bahlul. Milih pemimpin kok yang begitu. Sudah tahu korup, tidak amanah, tidak kompeten, masih saja didukung, dicoblos. Kalian kok rela dan tega menukar masa depan kalian dan anak cucumu dengan beberapa lembar ribuan, helai sarung dan kerudung, serta syair buaian yang jelas-jelas tidak mungkin bisa ditepati? Akal kalian kemana? Pakai dong rasionalisasimu. Trembelane!”

Mereka tetap ‘menang’. Dan kita terus mutung. Yang tidak kadung mutung, tampil ke panggung yang dibuat sendiri untuk menyumpahi atau sekedar mengomentari orang banyak itu.

Kata sosiolog Herbet Spencer, kita harus mengakui bahwa kelahiran seorang pemimpin yang hebat tergantung dari serial panjang pengaruh rumit yang dihasilkan dari berbagai pengalaman yang dilaluinya, dan situasi sosial dimana pengalaman itu secara perlahan juga berkembang. Spencer menegaskan dengan singkat, “Sebelum dia membentuk masyarakat, masyarakatlah yang membentuknya terlebih dahulu.”

Kita mengutuk masyarakat lagi. Dalam demokrasi dimana masyarakat diagungkan, mana mungkin di Indonesia yang masyarakatnya mudah dibeli dengan ‘murah’, anak-anaknya yang diajari cara mengakali hasil ujian sejak sekolah dasar, pejabatnya yang senang mengurus dan melayani apabila ada jatah serta suapan, dan yang calon pemimpinnya lebih banyak berpikir soal jabatan dan kedudukan, akan kita miliki pemimpin yang didambakan?

Saya yang sok tahu dan sok elit karena (penginnya) masuk kelompok yang sedikit dan suka berkomentar itu, terpikir lagi Thomas Carlyle yang punya teori tentang “Orang Besar/The Great Man” ketika kita galau akibat krisis kepemimpinan seperti ini. Ada satu ucapannya dalam ‘Past and Present’ (1843) yang juga menyinggung tentang demokrasi yang terngiang lagi: “Democracy means despair of ever finding any heroes to govern you…”

Agak sulit memang hidup dalam masyarakat yang tidak memiliki pengharapan tinggi