Niat sudah lama dipancangkan. Sejak bulan Rajab, saya memang sudah berazzam untuk silaturahim kali ini. Tapi dasar pengrajin alasan, saya selalu punya cara membatalkannya. Tapi, hari ke-4 syawal tahun ini saya sudah merasa tidak enak lagi untuk mengelak dan membuat-buat alasan. Lagipula, saya masih percaya pada kuwalat; Jangan-jangan saya kebagian bala karena berani menyepelekan tekad. Apalagi tekad yang baik.
Se-rasional-rasionalnya saya, ada beberapa warisan primordial yang tetap melekat. Beberapa itu mungkin tidak banyak (yang terjangkau kesadaran saya). Salah satunya ya soal kuwalat tadi.
Dampaknya, saya seringkali sulit menerima penjelasan tradisional tanpa pembuktian empirikal atau alur penjelasan yang logis. Termasuk, untuk misi kali ini. Ditemani teman SD, kami menyusuri jalan pabuaran menuju satu tempat yang belum pernah kami datangi. Modal kami hanya nama si empunya dan sedikit ingatan teman SD saya yang katanya pernah ditunjuki orang gang jalan masuk menuju kediaman beliau.
Kami pun sempat nyasar dan menyadari dalam perjalanan pulang bahwa gang jalan itu sudah kami lewati 3 kali sebelumnya. Singkat cerita, dengan bertanya sana dan sini, kami sampai di pondokan Abah Munfasir di daerah Burugbug, Padarincang (aku sengaja tak menyebutnya dengan KH atau Kyai sebagaimana umumnya ulama di Banten untuk memangkas ‘jarak’ yang menurutku tak perlu).
Kediaman atau Pondokan Abah sebetulnya tidak sulit dicapai. Jalan masuk yang menghubungkan jalan raya ke dalam sudah beraspal, mulus. Bahkan aspal masuk hingga tepi pondok dari pinggir jalan. Ada papan peringatan; tamu wanita dilarang mendekat, hanya menerima tamu laki-laki. Pondokan santri-santrinya (yang kami lihat tidak banyak) memang sangat sederhana. Ada kebun ubi dan palawija yang menjadi bahan konsumsi santri sehari-hari. Menurut keterangan Abah sendiri, dengan Rp. 10.000, setiap santri bisa hidup selama sebulan dengan mengandalkan hasil tanaman sendiri. Beberapa kabar kami dengar, untuk menjadi salah seorang santri Abah dan mendalami tasawuf di sana, ada ketentuan untuk berpuasa selama 11 hari berturut-turut dengan ifthar hanya segelas air putih (tidak ada makan lagi).
Sampai detik tiba di depan pondokannya, saya masih menyimpan dalam benak: Meski ekspektasi untuk menemukan jawaban komprehensif sangat tinggi, tidak perlu berharap terlalu banyak dari pertemuan ini.
Niatkan saja, satu, untuk silaturahim, kedua, meminta nasihat kepada yang kita anggap orangtua, dan terakhir meminta do’a dari ‘abid yang ibadahnya terjaga dan insya Allah munajatnya lebih makbul. Nah, tidak ada yang aneh, kan? Persoalan ‘rumit’ dalam pikiranmu itu tidak harus selesai sekali dengan silaturahim kali ini. Kalaupun ada nasihat yang kau terima dan menurut kau itu baik, kemungkinan besar, secara ilmiah, itu adalah Efek Barnum. Tidak perlu berlebihan. Tanggapan berlebihan biasanya malah bikin program perbaikan diri kita jadi lebih berdasar emosi, tidak sampai menyentuh akal paling dalam. Akhirnya terus saja fluktuatif, kambuhan.
Saya ingin menyegarkan sedikit soal Efek Barnum ini (atau juga dikenal sebagai Efek Forer, diambil dari nama psikolog yang mengembangkannya). Efek Barnum adalah fenomena dimana orang cenderung menerima pernyataan-pernyataan ambigu, samar-samar, dan umum sebagai deskripsi akurat atas kepribadiannya sendiri (Dickson & Kelly, 1985). Kata-kata terkenal Barnum, “We’ve got something for everyone.”
Misalnya, ketika kita mendapati ramalan zodiak, perkataan orang yang membaca tulisan tangan kita, telapak tangan, raut wajah, ampas kopi atau teh, atau SMS kiriman dari program SMS premium dari para-normal tertentu. Deskripsi yang kita terima biasanya kita anggap sangat menggambarkan diri kita (“Pas gue banget, nih!”). Namun, jika kita cermati, pernyataan itu biasanya multi-makna atau berlaku umum.
“Jika anda berjuang dan berdo’a lebih keras, maka apa yang anda inginkan akan tercapai. Jangan putus asa.”
“Hati-hati dengan kesehatan anda. Perbanyaklah olahraga.”
“Anda perlu membuka diri. Jangan tolak uluran silaturahim yang datang.”
“Asmara anda menuntut kesabaran. Tetaplah berpikir positif kepada si dia.” Dst, dst, dst….
Menurut teori ini, secara umum, kita memang senang (dan selalu haus) perhatian dari orang lain. Ketika ada pernyataan umum yang diucapkan di depan kita atau kita dengar/baca langsung seakan-akan itu ditujukan untuk kita dan kita terima dengan terbuka sebagai gambaran akurat tentang diri. Agaknya, Efek Barnum ini tidak hanya diidap di tingkat individual. Masyarakat kita ketika mendengar ceramah dan janji para elit juga ternyata sering terkecoh.
Tidak ada maksud saya menyamakan Abah Munfasir dengan para peramal-peramal itu. Saya hanya ingin menekan ekspektasi saya. Saya tidak ingin emosional menanggapi apapun yang saya akan dapatkan dari pertemuan hari ini dengan Abah.
Saya rapalkan berulang-ulang 3 maksud saya datang menemuinya. Tidak lebih, saya akan cukup senang jika bisa bersilaturahim (berharap ada keberkahan dari Allah yang saya dapat), mendapatkan nasihat (agama adalah nasihat. Apapun yang mengingatkan kita untuk dekat dengan Allah tentu baik), dan dido’akan oleh Abah (Do’a ahli ibadah tentu mudah diijabah). Soal ruwetnya pikiran yang saya permasalahkan, mungkin tidak cukup dengan 1-2 kali pertemuan dengan Abah atau orang yang saya tuakan lainnya. Mungkin proses yang lebih panjang yang akan menjawabnya.
Namun, hari itu semua yang saya percayai agaknya berbalik kepada diri sendiri. Lepas saya memperkenalkan diri kepada Abah dan sedikit intro, Abah langsung memberikan nasihat. Nasihat yang pada mulanya aku pikir hanya akan memercikkan Efek Barnum.
Tapi, nyatanya tidak. Rasanya tidak. Pesan Abah sudah terlalu spesifik.
Banyak hal yang ternyata belum bisa aku jangkau dengan nalarku pasca silaturahim dengan Abah. Pertemuan yang mudah, nasihat pertama, semua perbincangan Abah selama kurang lebih 40 menit (mulai dari situasi politik, sosial, moral, pekerjaan), gubuk sederhana Abah di samping rumah bagus yang ditempati keluarganya, penghindaran Abah ketika ada tamu wanita, keputusan Abah untuk memutuskan obrolan untuk menambah raka’at shalatnya yang dikatakannya banyak tertinggal, dan masih banyak lagi.
Aku hanya sisakan kesan untuk dibawa pulang; Sederhana. Kemewahan yang entah bagaimana selalu aku rindukan..