Monthly Archives: February 2015

Adalah Negeriku Adalah Indonesia

Saya sudah jarang 17-Agustus-an dengan ikut macam-macam lomba; balap kerupuk, makan karung, tarik kelereng, masak tambang, panjat bantal, atau semacamnya. Apalagi ikut baris, berdiri, berpanas-panas, upacara berjam-jam di lapangan.

Anggap saja saya sekarang merayakan dirgahayu republik ini dengan cara saya sendiri.. 🙂

Waktu saya mengajar dulu, saya kerap bilang kepada mereka yang sepertinya terpaksa menyimak saya, bahwa istilah hari-kemerdekaan Indonesia itu keliru. Kemerdekaan adalah untuk negara yang sebelumnya dijajah. Lah, sebelum proklamasi 17 Agustus 1945, secara resmi kan belum ada negara Indonesia. Apalagi pelajaran sejarah yang mengatakan bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh Portugis, kemudian Belanda, dilanjutkan 3,5 tahun diinjak-injak oleh Jepang.

Dengan nada tinggi saya bilang, Indonesia, secara formal, baru eksis setelah proklamasi. Sebelumnya, barangkali kita bisa sebut sebagai wilayah nusantara. Yang terdiri dari pelbagai dinasti, kerajaan, kekeratonan, kesultanan, atau kelompok suku bangsa. Jadi, terma itu keliru.

Tapi, ya sudahlah. Saya bukan ahli sejarah. Hanya ingin memancing tensi di kelas saja, kok. Soalnya yang saya ajar suka tidur atau melamun ketika saya ngoceh panjang lebar di kelas.

Payah.. 🙂

Protes 

Mereka tidak sadar, pendidikan itu penting (meski yang saya lakukan sebetulnya, anda juga tahu, jauh dari kata mendidik). Seperti dalam salah satu dialog dalam film besutan Deddy Mizwar, ‘Alangkah Lucunya (Negeri Ini)’: “Pendidikan itu penting, supaya kita tahu pendidikan itu tidak penting.”

Saya mau mengklaim, bahwa cara saya saat ini memperingati HUT RI adalah hasil dari pendidikan yang saya lalui. Boleh setuju atau tidak.

‘Alangkah Lucunya Negeri Ini’ (ALNI) yang dirilis lebih dari 3 (tiga) tahun yang lalu nyaris sempurna meringkus dan menggambarkan realitas dan problem utama di Indonesia. Korupsi yang dipantik keserakahan, kriminalitas yang lahir dari kemiskinan, laku rasuah dan marjinalisasi, konflik nilai dengan kenyataan, kegagapan menghadapi konflik itu, dan fakta bahwa sampai kini persoalan itu tidak kunjung tuntas (entah hingga kapan).

Teman saya protes, “Tapi film ini sama sekali tidak memberikan jawaban atau inspirasi yang bisa memecahkan persoalan”. Lha, saya protes balik, apa itu memang jadi tugas film ini?

Cak Nun (EAN) di Kenduri Cinta, TIM Jakarta, 16 Agustus tahun yang lalu, menggemakan kembali semangat yang entah kenapa saya hubung-hubungkan dengan pesan dalam ALNI. Kata-kata EAN kemarin, sepertinya juga ingin menjawab protes teman saya tadi.

Tidak apa-apa tidak mampu melawan kedzaliman, tapi jangan lantas mengatakan bahwa itu bukan kedzaliman. Ilmu dan pengetahuan bahwa peristiwa itu merupakan pengetahuan harus tetap dipegang… Maka sekolahlah sampai kamu tahu bahwa kamu dibodohi, dan mereka gagal membodohkanmu.” (Monggo disimak Reportase lengkap Kenduri Cinta).

Pilihan

Musfar Yasin–yang juga menulis skenario dan menggarap beberapa film bersama Deddy Mizwar, termasuk Kiamat Sudah Dekat (2003), Ketika (2005), dan Nagabonar (Jadi) 2 (2007)–dalam banyak adegan di film ini mungkin hendak melukiskan sebuah peribahasa dalam kamus urban; “To Trade Lions for Lambs“, memilih yang buruk diantara yang lebih busuk.

Ketika tidak menemukan pilihan ideal yang kita bayangkan, dan kita tidak punya pilihan lain, akhirnya kita harus menjalankan pilihan kotor yang tersedia. Daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali, setidaknya kita tetap mencoba merubahnya dengan cara yang kita tahu, yang kita mampu. Selama kita terus berupaya menjaga (dalam sanubari) apa yang kita yakini benar.

Itu yang dipilih Muluk (Reza Rahadian), Pipit (Ratu Tika Bravani), dan Samsul (Asrul Dahlan). Jika kita punya sedikit ‘nyali’, tidak terlanjur culas atau enggan bergerak, pilihan itu juga yang mungkin kita ambil. Dalam kehidupan nyata, barangkali sudah banyak dari kita yang menjalaninya. Dan bisa jadi sampai sekarang kita masih terus berupaya meraba bagaimana caranya memurnikan idealisme kita.

Pada gilirannya, siapa yang akhirnya berhak menentukan salah atau benar pilihan (kita) itu?

Pipit: “Bang Samsul pikir, karena abang udah ngajarin mereka Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45, terus kelakuannya jadi baik?”

Samsul: “Terus lu pikir, karena lu udah ngajarin mereka ngaji, sholat, kelakuan mereka juga jadi baik?”

(Alangkah Lucunya (Negeri Ini), 2010)

Kenyataan Kedua

Baik. Kita rehat sejenak dari layar dulu. Kembali pada realitas subjektif kita.

Saya tidak ingat persis berapa film atau tontonan yang sudah saya pirsa. Jenis-jenis, genre-genre, tipe-tipe, kategori-kategorinya. Dan berapa kira-kiranya semua yang sudah saya pirsa itu mempengaruhi betul cara pandang atau cara berpikir saya.

Memang tidak ada yang benar-benar berpengaruh sampai merubah drastis pandangan atau pemikiran yang saya miliki. Tapi, jujur saja, saya akui ada beberapa diantaranya yang menggeser makna yang sebelumnya bertengger di kepala kecil saya, atau cara saya memaknai sesuatu.

Film memang bukan satu-satunya ihwal yang membentuk atau mengganti fikrah atau pemahaman saya. Saya rasa juga ia bukan perkara yang dominan dalam membangun watak dan personalitas saya. Ada lingkungan sosial dimana saya bergaul, ada kampus, madrasah, asrama, buku, pantai. Ada gen.

Alasan saya mengangkat film untuk menjadi topik harian sebetulnya sederhana. Pengalaman selama kurang-lebih 3 (tiga) tahun punya web-log, menyadarkan saya betul bahwa Continue reading