“Kan sudah pernah kubilang padamu: aku tidak bisa mencintaimu dengan sederhana. Aku mencintaimu dengan semua kerumitan itu, pelik yang berkelip pelangi dari tiap rongga…” (dipinjam dari HTR)
Sepertinya perkara mencintaiMu memang tidak dapat kusederhanakan. Meskipun aku pernah menghibanya begitu rupa. Kadar intelektualitas ditambah (atau dikali, dipangkat, akar kuadrat, apapun) kebebalanku membuatku berpikir bahwa tidak mungkin aku sanggup memikul segala kerumitan, hanya untuk mencintaiMu.
Oleh karenanya, satu waktu kumohon padaMu; berikan aku cinta yang sederhana, yang bisa kupahami sembari aku bangun dari tidur, merapikan kasur, buang hajat, mandi, menyimpan dahi di bumiMu, minum, sarapan, membaca, menulis, membuat laporan, berjalan, duduk, bersalaman, tertawa, menangis, menyalakan pelita, hingga pergi lagi mendengkur. Semua hal yang biasa kulakukan dengan intuisi.
Tapi, aku memang tidak bisa mencintaiMu sesederhana itu. Tidak cukup lagi.
Aku selalu menikmati setiap pengetahuan baru tentangMu. Setiap pengalaman baru menemuiMu. Setiap huruf, aksara, tanda baca, aksen, dan langgam. Setiap pertanda yang hadir dan mengabarkan adanya diriMu. Dan itu selalu membuatku mabuk akan pemahaman yang selalu terbarukan mengenaiMu.
Aku ingin dapat berbuat seperti pencinta-Mu yang lain. Mereka yang dapat menemuiMu dalam ketidakadilan, penderitaan, kebejatan, perang, kekejian, kebodohan, kemewahan, keterasingan, kepongahan, lupa daratan, dan keramaian.
Bukan Kehendak
Percayalah, aku bukan tipe yang menghendaki semua kerumitan. Bukan kesengajaan mengenyahkan kesederhaan dan menggantikannya dengan segala kompleksitas yang ada. Untuk memperpelik setiap percik hasrat dengan keraguan dan tanya. Untuk membuat kekagumanku bercela karena satu-dua mimpi dan bayanganku tentang dunia dikhianati realita.
Bahkan, aku bercita-cita dapat menyederhanakan semuanya. Tidak terkecuali soal mencintaiMu itu. Seperti jenius yang dapat mengemas dunia dalam satu rumus. Tapi, aku bukan jenius. Aku noktah kecil yang ambisius sekaligus naif. Karena percaya semuanya begitu sederhana, atau dapat disederhanakan.
Ah, Kau tentu selalu lebih tahu, Maha Tahu. Termasuk berapa dan betapa kelirunya soal kerumitan yang kucerna.
Sekarang, izinkan aku menerima rumitnya cinta. Dan perkenankan aku mencintaiMu dan mendapati warni semua pelangi yang tercipta, di syahru Ramadhan yang mulia…
republik dengan ciri trias-politika didasarkan pada cita-cita menegakkan demokrasi dan hak asasi sebagai tiang kemakmuran yang berkeadilan.
