Monthly Archives: July 2013

Rumit

“Kan sudah pernah kubilang padamu: aku tidak bisa mencintaimu dengan sederhana. Aku mencintaimu dengan semua kerumitan itu, pelik yang berkelip pelangi dari tiap rongga…” (dipinjam dari HTR)

Sepertinya perkara mencintaiMu memang tidak dapat kusederhanakan. Meskipun aku pernah menghibanya begitu rupa. Kadar intelektualitas ditambah (atau dikali, dipangkat, akar kuadrat, apapun) kebebalanku membuatku berpikir bahwa tidak mungkin aku sanggup memikul segala kerumitan, hanya untuk mencintaiMu.

Oleh karenanya, satu waktu kumohon padaMu; berikan aku cinta yang sederhana, yang bisa kupahami sembari aku bangun dari tidur, merapikan kasur, buang hajat, mandi, menyimpan dahi di bumiMu, minum, sarapan, membaca, menulis, membuat laporan, berjalan, duduk, bersalaman, tertawa, menangis, menyalakan pelita, hingga pergi lagi mendengkur. Semua hal yang biasa kulakukan dengan intuisi.

Tapi, aku memang tidak bisa mencintaiMu sesederhana itu. Tidak cukup lagi.

Aku selalu menikmati setiap pengetahuan baru tentangMu. Setiap pengalaman baru menemuiMu. Setiap huruf, aksara, tanda baca, aksen, dan langgam. Setiap pertanda yang hadir dan mengabarkan adanya diriMu. Dan itu selalu membuatku mabuk akan pemahaman yang selalu terbarukan mengenaiMu.

Aku ingin dapat berbuat seperti pencinta-Mu yang lain. Mereka yang dapat menemuiMu dalam ketidakadilan, penderitaan, kebejatan, perang, kekejian, kebodohan, kemewahan, keterasingan, kepongahan, lupa daratan, dan keramaian.

Bukan Kehendak

Percayalah, aku bukan tipe yang menghendaki semua kerumitan. Bukan kesengajaan mengenyahkan kesederhaan dan menggantikannya dengan segala kompleksitas yang ada. Untuk memperpelik setiap percik hasrat dengan keraguan dan tanya. Untuk membuat kekagumanku bercela karena satu-dua mimpi dan bayanganku tentang dunia dikhianati realita.

Bahkan, aku bercita-cita dapat menyederhanakan semuanya. Tidak terkecuali soal mencintaiMu itu. Seperti jenius yang dapat mengemas dunia dalam satu rumus. Tapi, aku bukan jenius. Aku noktah kecil yang ambisius sekaligus naif. Karena percaya semuanya begitu sederhana, atau dapat disederhanakan.

Ah, Kau tentu selalu lebih tahu, Maha Tahu. Termasuk berapa dan betapa kelirunya soal kerumitan yang kucerna.

Sekarang, izinkan aku menerima rumitnya cinta. Dan perkenankan aku mencintaiMu dan mendapati warni semua pelangi yang tercipta, di syahru Ramadhan yang mulia…

Ombudsman; Aksesori Demokrasi

Tulisan Anggota Dewan Redaksi Media Group, Toeti Prahas Adhitama, yang dirilis Harian Media Indonesia tanggal 24 Mei 2013 yang lalu cukup menarik. Catatan berjudul “Mengangankan Peran Ombudsman” itu setidaknya mengandung beberapa pemikiran yang dalam kacamata saya laik untuk direnungkan lebih jauh, teristimewa sekali bagi segenap Insan Ombudsman RI.

Pertama, angan soal Ombudsman yang kelak sejajar dengan lembaga-lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kedua, harapan agar Ombudsman menjadi lembaga publik yang mandiri secara struktural maupun fungsional, di samping menjalankan ideologi negara dan mengusahakan terciptanya keadilan serta kelancaran administrasi negara yang bersih, jujur, serta mengedepankan supremasi hukum.

Ketiga, fungsi dan peran Ombudsman sebagai perantara dalam proses politik untuk kepentingan publik serta menghidupkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap kinerja penyelenggara negara. Dan keempat, kenyataan bahwa Ombudsman Republik Indonesia yang belum banyak dikenal dan mampu menjalankan peran ideal sebagai pengawas penyelenggaraan Negara.

Keadilan administratif

Dua hal pertama sangat bertalian erat dengan impian Indonesia, yakni terwujudnya masyarakat adil sejahtera. Keputusan kita mengadopsi (meski dalam versi sendiri) bentuk pemerintahanrepublik dengan ciri trias-politika didasarkan pada cita-cita menegakkan demokrasi dan hak asasi sebagai tiang kemakmuran yang berkeadilan.

Kita sudah mengenal pelbagai istilah dan konsep keadilan, seperti keadilan distributif, komutatif, dan tentu saja keadilan substantif. Namun, keadilan administratif yang dicitakan dengan lahirnya Ombudsman masih terasa asing di telinga.

Keadilan administratif mengandaikan adanya keterbukaan dan sistem pertanggungjawaban yang merit dalam setiap proses menuju keadilan substantif. Tanpa terwujudnya keadilan administratif, makna keadilan substantif akan mudah terhisap oleh hegemoni.

Dalam konsep habermas, bentuk hegemoni dijabarkan dalam dalam penguasaan makna, pembatasan pemakaian istilah dan konsep, sehingga arti adil ditentukan oleh seseorang atau sekelompok individu saja, terutama oleh mereka yang memiliki akses terhadap sumber daya dan kuasa. Pada situasi hegemonik, tidak ada supremasi hukum. Hukum hanya dijadikan alat untuk melindungi kepentingan sementara orang atau kelompok.

Upaya untuk menciptakan keadilan administratif inilah yang menjadi tugas besar Ombudsman yang membuatnya berdiri tegak sekaligus berbeda di antara lembaga-lembaga negara lainnya. Untuk mewujudkannya, tidak bisa tidak Ombudsman harus dikenal oleh masyarakat. Sederhana saja, sulit mengharapkan atau menuntut ombudsman berkontribusi jika masyarakat tidak mengenalnya secara layak.

Pembenahan Internal

Pada 2 (dua) perihal terakhir yang disinggung Toeti, bahasan menukik pada realita aktual Ombudsman sebagai organisme hidup. Dalam sosiologi, diskursus mengenai peran tidak pernah terlepas dari ekspektasi akan tugas dan fungsi yang diemban.

Bahasan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) dapat sangat normatif dan sepertinya hanya hidup dalam teks atau dunia ide. Lantaran, nyaris tidak ada satu ayat pun dalam undang-undang ditulis memakai redaksi yang menurunkan optimisme atau harapan. Meski pada gilirannya, perlahan sakralitas tiap pasal berkurang seiring dengan kontra-produksi perilaku para aktor yang berujung terjungkirnya keyakinan publik hingga ke titik nadir.

Di sisi lain, terma peran memiliki dinamika yang bergerak sesuai dengan perkembangan intelektualias masyarakatnya. Boleh jadi masyarakat dengan pengharapan rendah (society with low expectation) tidak memerlukan Ombudsman yang galak atau menjadi watch-dog. Ombudsman untuk masyarakat ini hanya diangankan sebagai keajaiban diantara serakan birokrasi yang membusuk.

Sementara, pada masyarakat dengan ekspektasi yang tinggi, Ombudsman akan sangat diharapkan mampu menjadi pengawas yang tegas, tempat masyarakat mengadu, mendapatkan perlindungan, dan meluruskan penyalahgunaan wewenang para pejabat.

Bagaimanapun, sudah selayaknya Ombudsman berbenah menjadi role-model pelayanan publik seperti dicita-citakan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009. Sama sekali tidak perlu prokrasinasi untuk membangun sistem layanan pengaduan dan penanganan laporan yang mengacu pada standar terbaik. Dengan begitu, Ombudsman secara alami membangun kredibilitas, integritas, sekaligus wibawa di hadapan individu atau lembaga penyelenggara pelayanan publik.

Pada akhirnya, ombudsman diharapkan tidak terjatuh pada penghamburan anggaran Negara (baca: uang rakyat) atau sekedar menjadi aksesori dalam konstelasi demokrasi di Indonesia tercinta. (ZM)

Moto Ombudsman

Motto Ombudsman RI

Bacok!!

Golok tajam itu meninggalkan 3 (tiga) luka sabetan di lengan kiri dan 7 (tujuh) bekas sayatan di tangan kanan. Tangan kiriku yang rentan, sekaligus memikul ngilu yang terasa ke tulang sampai saat ini. Sebagiannya nampak membiru memar.

Abah (Tb.) Ramli pada mulanya melakukan itu tidak padaku, tapi beberapa muridnya yang tampil dengan seragam khas. Ia tidak hanya membacok dan menyayat dengan golok, ia menusuk dengan tiang kawat dan memantek dengan paku banten. Tidak peduli perempuan atau laki-laki, tinggi-pendek, berotot atau kurus-berlemak sepertiku.

Memantek Paku Banten

Memantek Paku Banten

Dengan senyum khasnya yang terus mengembang, dan iringan tarompet penca dan rebab yang digesek tanpa henti, Abah Ramli meminta siapapun diantara hadirin yang sukarela mau merasakan dinginnya ujung mata golok.

Kang Rahmatullah (salah seorang tuan rumah kegiatan), entah menggunakan ilmu apa, berhasil mendorongku (yang sedang repot mengambil dokumentasi sebagai tugas Negara) untuk naik laga.

Mendapatkan umpan, Abah Ramli dengan girang menarikku ke tengah panggung. Dengan gerakan kilat, goloknya terhunus dan memakan korban puluhan helai rambutku yang dijadikan sebagai sampel ketajaman goloknya. Lantas, pria yang sudah lebih dari 20 tahun melanglang-buana memperkenalkan debus itu memintaku Continue reading