Monthly Archives: March 2015

Pastinya Semua Mungkin

Saya menyukai reaksi dan cara Alicia menjawab ‘pertanyaan-jenius’ John Nash (A Beautiful Mind, 2001) yang meminta pembuktian, semacam data empirik yang bisa diverifikasi, berkaitan dengan kepastian dan jaminan terhadap kelanjutan hubungan mereka.

Setelah menetralisir keterkejutannya–pertama, karena Nash ingin melamarnya, dan yang kedua pertanyaan itu macam soal fisika yang kita tidak tahu rumus untuk menjawabnya–Alicia menatap Nash dengan sorot mata yang dalam.

Alicia yang cerdas menjawabnya dengan bertanya balik; “Seberapa luas alam semesta ini?” Yang langsung dijawab tandas oleh Nash; “Tidak terhingga!” “Bagaimana kau tahu?” kejar Alicia. “Aku tahu lantaran semua data hasil penelitian menunjukkan bahwa alam semesta tidak terhingga,” sahut Nash lagi.

“Tapi kan belum dibuktikan dengan pasti.”

“Memang belum.”

“Kau juga belum pernah melihatnya, kan?”

“Belum.”

“Terus, bagaimana kau bisa tahu dengan pasti?”

“Tidak. Aku hanya meyakininya,” Nash ganti terpojok.

“Nah, kurasa, begitu juga cinta…”

Itu salah satu cuplikan roman dalam film yang paling saya ingat. Tapi sekarang saya belum akan obrolkan soal ‘A Beautifil Mind‘, film based-on-true-story favorit banyak orang dan seakan sudah menjadi klasik. Saya akan buat satu posting soal itu nanti. Pastinya. Mungkin.. 🙂

Rumit

Apa yang diharapkan dari film drama? Ide cerita yang Continue reading

Sekian Dusta Menuju Satu Kebenaran

Kita merenung dan merasa perlu menuntaskan pertanyaan-pertanyaan mendalam dan personal yang lahir dengan sendirinya setelah menonton film ini.

Sebuah karya sinema sederhana dari negeri Iran; sebuah tema yang simpel, penggambaran yang natural, dan eksekusi peran dan penyutradaraan yang cemerlang. Kombinasi yang membuat kita terseret mengikuti alur film ini hingga tuntas. Lantas, mendapati sejumlah renungan dan tanya menggantung untuk kita tuntaskan. Sendiri.

Semodel dengan film istimewa Iran lainnya, seperti ‘Bacheha-ye Aseman‘ (Children of Heaven), dari tahun 1997.

Ceritanya, film berjudul asli dalam bahasa Persia ‘Jodaeiye Nader Az Simin‘ ini melukiskan peristiwa dan konflik-konflik yang terjadi setelah Nader (Peyman Moaadi) dan Simin (Leila Hatami) memutuskan untuk bercerai. Namun, kita tidak dijerumuskan pada persoalan kenapa mereka bercerai atau apa yang sebetulnya terjadi setelah 14 tahun mereka menikah.

Ihwal yang menjadi pusat drama-konflik dalam film ini hanya berupa Continue reading