Saya menyukai reaksi dan cara Alicia menjawab ‘pertanyaan-jenius’ John Nash (A Beautiful Mind, 2001) yang meminta pembuktian, semacam data empirik yang bisa diverifikasi, berkaitan dengan kepastian dan jaminan terhadap kelanjutan hubungan mereka.
Setelah menetralisir keterkejutannya–pertama, karena Nash ingin melamarnya, dan yang kedua pertanyaan itu macam soal fisika yang kita tidak tahu rumus untuk menjawabnya–Alicia menatap Nash dengan sorot mata yang dalam.
Alicia yang cerdas menjawabnya dengan bertanya balik; “Seberapa luas alam semesta ini?” Yang langsung dijawab tandas oleh Nash; “Tidak terhingga!” “Bagaimana kau tahu?” kejar Alicia. “Aku tahu lantaran semua data hasil penelitian menunjukkan bahwa alam semesta tidak terhingga,” sahut Nash lagi.
“Tapi kan belum dibuktikan dengan pasti.”
“Memang belum.”
“Kau juga belum pernah melihatnya, kan?”
“Belum.”
“Terus, bagaimana kau bisa tahu dengan pasti?”
“Tidak. Aku hanya meyakininya,” Nash ganti terpojok.
“Nah, kurasa, begitu juga cinta…”
Itu salah satu cuplikan roman dalam film yang paling saya ingat. Tapi sekarang saya belum akan obrolkan soal ‘A Beautifil Mind‘, film based-on-true-story favorit banyak orang dan seakan sudah menjadi klasik. Saya akan buat satu posting soal itu nanti. Pastinya. Mungkin.. 🙂
Rumit
Apa yang diharapkan dari film drama? Ide cerita yang Continue reading