Monthly Archives: June 2018

Membumikan Langit

Kepala Sekolah mengelola BSM jadi tabungan supaya ndak disalahgunakan, diancam. Kepala Desa yang menampung iuran warga desa yang ingin mengurus prona agar bisa menyisihkan ‘penghargaan’ bagi kerja para pamong desa yang kerja kerasnya kurang diapresiasi, diteror. Warga yang membelah hutan untuk bertahan hidup sebagaimana selama ini dilakukan turun temurun, diintimidasi. remaja yang diperkosa menggugurkan kandungan, diseret ke pengadilan dan menjadi pesakitan. Seorang nenek yang mengambil buah dan tanaman karena kelaparan, dipidana.

Di mana-mana terjadi glorifikasi pasal-pasal regulasi. Polisi dan jaksa malah banyakan bancakan, hakim masih langka menimbang asas dan lebih memilih (atau terdidik) melihat pasal dan ayat tanpa banyak menafsirkan nilai, prinsip, maupun makna ke dalam setiap bunyi norma. Keadilan senyap, kebenaran sunyi.

Asas itu di langit. Agar bisa membumi, disublim menjadi hukum. Bentuknya pasal dan ayat, dengan bahasa yang dibuat manusia, agar (seakan-akan) keadilan di langit bisa diterima makhluk bumi dengan serba kepastian. Namun, yang terjadi koneksi ke langit menjadi runtuh. Pelakunya tidak lain dan tidak bukan ternyata para penegaknya sendiri, yang mengganti tali kemanusiaan yang kokoh dengan benang materi yang rapuh.

Penegak hukum menjadi tidak sama dengan penegak keadilan. Keadilan tetap di langit, dan di bumi kini lantas mengenal hukum sebagai penggantinya. Ya, hukum dalam wajah ancaman, dera, siksaan, dan pembenaman martabat manusia ke titik terendahnya.

Maka catatan ini adalah doa paling payah atas ketidakberdayaan diri. Pecut pualam atas kepengecutan berjamaah yang didengungkan dengan teriakan para hamba bungkus nasi dan bingkai selfie.

Wabah ke-tak-acuhan yang bedebah! Kedunguan yang tuli! Kegaduhan yang profan!