Monthly Archives: December 2016

Diam

“Kenapa diam? Bukannya sekarang waktu yang pas buat nimbrung ngomong?”

“Supaya?”

“Ya.. biar apa, kek. Berpendapat kan bagus.”

Senyum.

“Kalau ndak bersuara berarti dukung yang sana, ya?”

“Ahahahaha..”

***

Terus terang saja saya minder. Yang dimaksud kawan saya dengan ‘para pihak’ itu sungguh luar biasa amunisinya. Masing-masing punya senjata yang bahkan sebelum-sebelumnya ndak saya kenal. Entah isinya peluru kosong atau beneran, saya sering terlanjur keder duluan.

Sepertinya mereka sudah betul-betul berniat bulat menekuk dan menghabisi siapapun yang jadi musuh-musuhnnya. Ya, dalam elan macam ini, lawan kerap menjadi musuh.

Kesungguhan itulah yang membikin jeri (dan takjub). Apatah maksud dan tujuannya mengarah ke amal sholeh atau menjurus ke yang salah. Motifnya membela pemahaman dan keyakinan, ataukah mengejar kejasadan belaka.

Para mujahid selalu punya penggemar fanatik karena totalitasnya. Penggemar itu sebagian besar rasanya datang dari rahim emosionalisme (sebut saja begitu), yang rasionalitasnya sudah kadung tenggelam dalam selaksa euforia-massa jihad; kesungguh-sungguhan, totalisme, ekstrem-polar, ultra-loyalitas, dan ilusi hedon akan negeri yang dijanjikan.

Aku minder berhadapan sama orang yang sungguh-sungguh seperti itu.

Eh, maaf, bukan karena orangnya, jenis senjatanya, atau macam amunisinya. Tapi lantaran keseriusannya.

Sebab yang tak begitu perduli dengan pretensi, yang ndak cukup bersabar mengandalkan kejelian, yang baginya jarak paling nyata adalah yang bisa diukur dengan jengkal, hasta, dan depa; terancam bersimpati.