Monthly Archives: August 2014

Masa Kecil

Saya ndak mengatakan masa kecil saya sempurna. Tapi saya (memilih) bahagia meski ndak memiliki segalanya. Walaupun harus berjalan satu kilo lebih demi nonton serial Satria Baja Hitam di layar hitam putih. Menggotong-gotong aki (accu) per 2-3 hari sekali ke bengkel agar bisa menyaksikan siaran kelompencapir dan dunia dalam berita di malam hari. Berenang di kali cokelat penuh kotoran dengan dasar berwarna jelaga dan menguras airnya untuk mendapatkan udang, ikan sepat, keting, lele gabus untuk dibakar dan dinikmati sebagai cemilan sore hari. Menahan nyeri dan memar akibat bola plastik murahan yang kubeli berjamaah lalu kami tendang-tendang sekenanya di lapangan penuh kubangan dan sisa tanaman padi. Pergi dan pulang sekolah dipanggang terik yang mengeringkan ingusku. Dimusuhi atau dipukuli teman sebaya karena mengejek (nama) bapaknya. Dimarahi dan disentil guru ngaji. Berjam-jam menyusuri jalan bergelombang, kemudian menanggung pusing, mual, dan muntah-muntah di angkot supaya bisa menyaba ‘kota’.

Itu sungguh bukan alasan untuk mengatakan masa kecil saya ndak bahagia. Yang perlu dikompensasi dengan menonton segala sinema di bioskop, DVD, atau ragam acara TV di saluran berbayar. Berlama-lama berenang di kolam berkaporit atau berfilter canggih. Menyusuri tiap sudut dan lapak-lapak modern di mall. Menyesap kopi serta cemilan pendamping yang mahal. Menghabiskan uang jajan untuk menyewa lapangan futsal. Membunuh waktu dengan macam-macam aplikasi di perkakas-pintar, playstation, atau timezone. Memacu gas motor atau menginjak pedal mobil hingga tandas.

Ndak ada masalah dengan masa kecil saya yang ndak sempurna. Ndak ada juga, saya pikir, masalah dengan satu atau beberapa keluhan atau pengandaian saya akan masa kecil itu. Andai pun memang ada, itu bukan indikasi dari adanya masalah yang dijadikan dasar untuk dicarikan obatnya sekarang.

Serial Jelang Kurun

Tidak banyak tontotan dimana kita merasa tumbuh bersama dengan karakternya. Sejalan dengan berkembanganya cerita dan menuanya kehidupan para tokoh, entah bagaimana kita merasa kita juga menjalani kehidupan bersama mereka, memahami perasaannya, mendalami jalan pikirannya, tersenyum bersama bahagianya, tertawa bersama guyonannya, bersedih atas keprihatinan yang dialaminya.

Di awal kuliah, kawan baik saya yang gemar tontonan dan menyewa film mengajak saya memirsa bersama ‘Before Sunrise‘, film yang dibuat di tahun 1995. Mengisahkan pertemuan dan perjalanan selama semalam Jesse (Ethan Hawke) dan Celine (Julie Delpy) di Wina/Vienna, Austria. Percakapan keduanya begitu mengalir, sampai saya yang memang masih minim pengalaman nonton, menganggapnya sebagai sebuah film dokumenter (karena tidak bisa membedakan informasi kawan saya yang menyebut ini film independen).

Percakapan banyak mengambil porsi. Mulai dari soal kegemaran, impian, hingga opini soal politik. Tapi, sayangnya sebagian besar film ini kemudian hanya nyangkut di kepala saya sebagai film roman manis antara remaja dari Amerika yang sedang berpetualang di eropa dan gadis Perancis yang tengah bereksplorasi dengan filsafat dan pandangan hidup. Buat saya yang masih belia, banyak informasi yang saya dapat.. 🙂

Di tahun 2005, kawan saya yang sama mengajak saya kembali memirsa sekuelnya. ‘Before Sunset‘, yang rilis di tahun 2004. Kisahnya tentu saja lanjutan dari jalan cerita sebelumnya. Setelah sembilan tahun dua tokoh utama ini berpisah, mereka kembali bersua. Kali ini di Paris, kampung halaman si gadis. Waktu itu, sang tokoh pria (ya, dia tumbuh dan bukan lagi seorang remaja) diundang membedah buku novelnya oleh representatif penerbit di eropa. Novel itu, tentu saja, menceritakan soal pengalamannya bertemu seorang gadis di Wina, 9 tahun yang lalu.

Sang gadis, kini juga sudah menjelma wanita, mendapat info acara bedah buku itu karena memang novelnya sendiri juga menjadi best-seller di eropa. Ia sengaja menemui sang pria, tidak saja untuk memuaskan penasarannnya apakah gadis dalam cerita novel itu adalah dirinya, tapi lebih kepada; “Apakah ia datang kembali ke stasiun itu seperti janji yang mereka buat?“.

Dan percakapan panjang mengambil kembali banyak porsi di film ini.

Have a nice conversation...

Have a nice conversation…

Geser

Setelah menyaksikan sekuelnya, saya mulai merasakan perubahan tokoh atau karakter keduanya seperti saya melihat perubahan pandangan dan pemikiran saya sendiri. Jesse, yang awalnya remaja Chicago pemberontak penuh sinisme dan skeptisisme terhadap dunia, bergeser menjadi seorang pria yang menerima realitas dan memutuskan untuk berjuang dan menghadapinya dengan cara lazim yang diambil kebanyakan orang.

Di sisi lain, Celine, yang mulanya seorang gadis Paris manis yang cerdas, naif, dan mampu mengambil sisi terang dari kejadian terburuk sekalipun, bermetamorfosa menjadi wanita tirus berhaluan radikal dan memandang bahwa mayoritas dunia ini sudah nyaris tidak dapat diselamatkan dari kehancuran moral akibat ketamakan kapitalis dan para politikus busuk.

Ah, barangkali cuma dalam pikiran saya saja mereka seperti itu. Anda tentu boleh berpendapat lain..

Di tahun 2013 ini (entah kenapa dipilih kembali jangka waktu sembilan tahun?), melanjutkan sekuel sebelumnya, rilislah ‘Before Midnight‘. Kali ini, kawan saya sudah tidak menemani saya menonton. Ia sudah memiliki istri, tepat beberapa bulan sebelumnya. Sedang saya, saya sudah memiliki kawan baru, yang membantu saya mengunduh film ini dengan sukarela.

Dari awal, kita sudah menyimpulkan, bagaimana sebetulnya akhir cerita dari ‘Before Sunset‘ yang digantung (dan bikin orang gereget-penasaran) itu. Namun, jujur, saya tidak begitu menikmati sekuel kedua ini. Mungkin karena memang saya belum sampai pada masanya.

Di sekuel terakhir yang diambil di Yunani ini, masih dengan tim produksi dan pemain yang tentu saja sama, cerita bergerak dengan latar kedua tokoh utamanya sebagai orangtua. Yang punya keinginan melihat anak-anaknya tumbuh baik dan sehat, awalnya. Percakapan kembali mendominasi dari itu, yang kemudian meluas, melebar, dan mendalam (seperti di dua film sebelumnya). Sebagai manusia yang memasuki usia paruh baya, mereka ternyata masih harus menghadapi dinamika dan dilema; dari pernikahan, komitmen, bahkan menyentuh soal makna cinta untuk kehidupan yang kini mereka jalani bersama.

Politik

Bukan semata lantaran saya pernah mengunjungi Wina dan dengan noraknya mencoba melacak jejak Jesse dan Celine di sana (maklum, bocah kampung disuruh ke eropa…). Tapi, siapapun akan menyenangi percakapan yang alami, mengalir, cerdas, membetot, intim, dan menggugah karena ia mengungkap kesejatian. Dan saya merasa ada bonus khusus ketika bisa merefleksikan diri pada suatu hal yang kita anggap memiliki banyak kesamaan.

Satu hal saja yang saya ambil dari karakter Celine, dimana saya merasa juga tumbuh bersamanya, adalah soal pandangan politik. Tak perlu saya ceritakan banyak, namun cerita dan alasan Celine yang ingin bergabung dalam birokrasi benar-benar membangunkan saya. Celine yang di awal film tidak begitu peduli soal politik dan lebih menyenangi kegiatan seni, Celine yang di film kedua begitu menggebu ingin merubah dunia dengan bergabung dengan teman-teman berhaluan kiri/radikal.

Saya sih belum bertekad masuk pemerintahan seperti keinginan Celine (paling tidak sampai saat ini). Tapi soal pemikiran dan gagasan yang mendasari keinginan itu, saya tidak menolaknya..

JesseOh, God, why didn’t we exchange phone numbers and stuff? Why didn’t we do that?

Celine: Because we were young and stupid.

Jesse: Do you think we still are?

Celine: I guess when you’re young, you just believe there’ll be many people with whom you’ll connect with. Later in life, you realize it only happens a few times.

Jesse: And you can screw it up, you know, miss-connect. (Before Sunset, 2004)