Sosok Profesor Malley yang diperankan Robert Redford dalam film inilah yang membetot nyaris seluruh perhatian saya. Bukan karena ia mewujudkan mimpi liar saya (akan saya ceritakan sebentar lagi). Tapi, justru lantaran mampu membuat saya berpikir lebih realistis. Jika punya keinginan tinggi, diperlukan kerja yang lebih. Sementara saya, beberapa tahun ke depan diizinkan mengajar lagi saja sudah anugerah.

Redford’s Motion
Tapi bukan sekedar sebab itu saya menyukai film ini. Bukan juga karena ada aktor-aktris kawakan macam Meryl Streep, Tom Cruise, Redford (yang sekaligus jadi dalangnya dan dalang beberapa film lain dengan pesan mirip) atau Andrew Garfield (yang lalu kita kenal sebagai Peter Parker dalam ‘The Amazing Spiderman‘), meski keberadaan mereka tentunya menaikkan kelas tersendiri. Tapi–lagi-lagi–ini soal gagasan atau ide yang disampaikan.
Lepas dari ulasan soal film ini yang menurut saya under-rated (mungkin karena temanya cenderung jenuh, adegan aksinya yang nanggung, pengambilan gambar yang panjang untuk adegan ngobrol, pace-nya yang biasa, beberapa goofs), saya tetap memilih film ini sebagai salah satu yang perlu ditonton. Saya sangat sarankan kepada siapapun yang suka dengan tema politik, ide-progressif, jurnalistik, atau akademik. Yang merasa terlibat dalam peristiwa penting, tapi tidak yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Banyak percakapan bernas, dialog kuat, dan karakter unik di sini. Perlu sedikitnya 3 kali menonton film yang diproduksi tahun 2007 ini, untuk membuat saya merasa percaya diri bisa menangkap pesannya. Tenang, bukan karena isinya berat. Tapi saya saja yang bahasa inggrisnya tingkat ala kadar.
Setting film terjadi pada masa pemerintahan Bush II, ketika Amerika sedang gencar menyerbu Afganistan dengan alasan berburu tertoris. Judul–yang kemudian dikutip dalam satu kalimat dalam adegan Redford–mengacu ke ucapan seorang Jenderal Jerman di perang dunia satu (WW1). Ia mengomentari pasukan Inggris, yang menurutnya; “Bagai kawanan singa yang dipimpin sekelompok kambing.”
Karakter Prof Malley mencoba meyakin salah satu mahasiswanya (Andrew Garfield) bahwa hal yang sama sedang berlangsung di negeri mereka. Ia merujuk pada keputusan 2 (dua) orang mahasiswanya yang lain yang memutuskan mendaftarkan diri menjadi tentara dan ikut berperang di Afganistan. Malley sendiri keras menentang keputusan itu karena yakin bahwa perang Afganistan itu sama sekali tidak setimpal. Belum lagi bagaimana kerapkali komando operasinya dijalankan dengan buruk.
Di saat yang bersamaan, salah satu aksi tentara di Afganistaan itu (ternyata bagian ini berdasar kisah nyata) sedang dibahas di sebuah kantor anggota parlemen (Tom Cruise) bersama seorang jurnalis kawakan (Meryl Streep). Terjadilah diskusi menarik. Karena, yang dibahas ternyata bukan rencana, tapi peristiwa (operasi) yang sedang terjadi.
Sang jurnalis lantas merasa terjebak dan berpikir bahwa pada gilirannya ia dijadikan alat propaganda politik belaka…
Liar
Saya pernah dengar ungkapan: “Those who can not do, teach“. Ditujukan buat orang-orang yang tahu dan sadar segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana seharusnya, tapi tidak melakukan apa-apa. Orang-orang itu mungkin cocoknya cuma jadi pengajar, penceramah, analis, pengamat, komentator, penggerutu, atau sebagainya.
Saya yang merasa tidak bisa melakukan apa-apa, kemudian mencoba mengajar. Dengan segala semangat dan mimpi, saya membayangkan akan bisa menggerakkan kawan-kawan muda untuk merubah dunia ini melalui ide-ide dan pemikiran saya. Bahkan ide dan pemikiran itu pun akan diakui di seluruh dunia lewat buku-buku saya, tulisan saya di jurnal-jurnal internasional, artikel di berbagai media massa, menjadi narasumber di berbagai kegiatan seminar atau diskusi publik.
Lalu, saya akan menjadi inspirasi dan rujukan para pemikir, aktivis, maupun warga biasa, dapat penghargaan dari PPB, disanjung di negeri sendiri, diberi gelar kehormatan di kampus, bahkan nama saya dijadikan nama salah satu jalan di kota saya. Muka saya pun dicetak di kaos-kaos, nama saya menjadi nama favorit orangtua untuk disematkan pada anak-anaknya.
Maaf kalau anda mulai berpikir soal masa depan tanah air yang suram, setelah mengetahui salah satu pengajarnya lebay begini. Hehehe..
Film ini, pada satu titik, mengingatkan saya sesuatu. Saya ingat soal bagaimana keseharian politik elit sama sekali tidak tersentuh, dan akibatnya banyak kebijakan yang jauh dari kata merealisasikan aspirasi publik. Saya ingat soal media massa yang hanya mengejar sensasi dan menjadi kepanjangan tangan propaganda elit politik dan tidak mengindahkan kebutuhan publik akan rasionalisasi sebuah kebijakan. Saya ingat soal banyak kawan-kawan muda potensial yang kadung apatis tentang kehidupan berbangsa karena merasa tidak menemukan cahaya di ujung kelam. Saya ingat soal banyak pengajar yang lebih menghayati perannya sebagai penjual diktat dan pengejar pangkat. Saya ingat singa-singa di negeri ini yang masih berpikir dirinya kambing hanya karena sering mendengar, membaca, menonton media dan politisi kambing di negerinya yang kebanyakan mengembik.
Saya ingat soal dimana seharusnya kita lebih baik menyalakan pelita ketimbang memaki kegelapan…
Professor Stephen Malley: You’re good with words, Todd. But you know what would make them even better? If they had a heartbeat.
(Lions for Lambs, 2007)