“Akang, ndak kebayang deh kalau anakku pacaran sama akang.”
“Lho, kenapa, Mbun?”
“Kasian anakku.”
“Kok, bisa?”
“Iya, habis dirimu terlalu pake logika sih.”
Saya belum benar-benar paham maksudnya sampai dia menjelaskan beberapa hari kemudian—tentu saja setelah saya desak berulang-ulang. Dia bilang, waktu sulungnya sedih berlebihan karena tidak bisa memenuhi ekspektasi guru matematikanya di SD, dia sebetulnya menerima saranku soal apa sebaiknya yang bisa dilakukan seorang ibu untuk ‘memperbaiki’ cara berpikir sulungnya itu.
“Betul, Kang. Aku sepakat dengan saranmu. Aku juga hargai bagaimana kamu katakan bahwa saranmu cuma alternatif, tawaran… yang kalau bisa dipertimbangkan dengan sangat—haha..tetep kamu mah..,” Urainya dengan mimik serius yang tetap lembut-keibuan. “Tapi, Kang, the way you deliver your logic-advise itu loh…”
“Lho, memangnya kenapa?”
“Harusnya dirimu rekam waktu kamu ngomong, lihat sendiri deh. Buktinya kamu pernah bikin anak gadis orang nangis juga kan lain waktu kamu mulai kasih saran logismu itu…”
Aku tak menyangkal. Dan jadi tertarik untuk merekam bagaimana rupa atau ekspresiku kalau sedang menasihati orang. Tapi, nanti ndak alami dong…
“Dan satu lagi kang, Continue reading