Lamar

Kawan saya tak pernah percaya dengan cerita yang satu ini… Suatu waktu saya memberanikan diri datang ke rumah seorang gadis yang kusuka. Akhirnya.

Kutemui ibunya. Saya minta izin kepada si gadis agar bisa bicara hanya berdua dengan ibunya saja. Gadis keberatan. Ibunya juga enggan. Saya senyum, dan mengatakan kalau pembicaraan dengan ibu ndak akan membahayakan.

“Kalau tidak berbahaya, kenapa mesti rahasia?” Gadis bersikukuh. Ah, saya sudah duga dan makin suka padanya.

Saya ganti strategi dengan membujuk ibu. Ibu akhirnya berkenan. Gadis menyingkir perlahan dengan tetap keheranan. Mungkin juga kesal dan penasaran.

Saya duduk menghadap ibu. Ibu memusatkan pandangannya pada saya. Tanpa suara, saya menyesap dulu teh yang tersaji sejak datang. Membasuh bibir yang lantas mengering. Dan kerongkongan yang mendadak kerontang.

“Ibu.. hatur nuhun sudah diizinkan bertemu dan berbicara langsung. Saya sebetulnya mau bercerita dulu, sebelum saya utarakan maksud saya. Boleh ya, Bu?”

Senyum. “Mangga..”

“Saya ada kenal seseorang. Dia cukup dihormati di kalangannya. Saya memandangnya sebagai salah satu panutan, baik dalam cara berpikir, bersikap, maupun bertindak. Terutama sebetulnya cara berpikir. Dia tumbuh menjadi salah satu cerdas-cendekia. Karyanya banyak dengan tema yang luas. Dan dia tidak pernah berhenti berkarya seakan-akan itu nafasnya. Dia memutuskan menikah saat usianya cukup matang. Dengan wanita yang ia pilih, ia memperoleh anak. Berkeluarga tak menghentikan produktifitasnya menghasilkan karya; menulis, membuku, berkesenian, berkebudayaan, berpolitik. Pendeknya, istilah saya, berkhidmat kepada umat. Satu saja yang saya herani, soal ekonomi atau materi ia tak terlalu begitu ambil peduli. Prinsipnya, semua sudah diatur oleh Gusti Allah.

Aktivitas dan pemikirannya yang terus bergulir, membuat pengagum dan pengikutnya bertambah. Kesibukannya pun bertambah. Ia mesti memenuhi permintaan umat yang menghendakinya memberi sejenak dua jenak pencerahan. Keluarga, terutama istrinya makin kewalahan mengikuti ritme sahabat saya ini (begitu kalau boleh saya menganggapnya). Keberatan istrinya bukan tak disadari. Tapi ia tetap memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktunya bersama-sama masyarakat untuk belajar. Menurutnya, itu jalan yang Allah peruntukkan baginya. Itu adalah amanah Allah buatnya. Ia berusaha membagi pemahamannya itu dengan sang istri. Setiap ia peroleh waktu, sebisa mungkin ia berdiskusi.

Komunikasi yang dibangun akhirnya menemui titik temu. Sang istri sudah tak sanggup lagi mendampingi. Dia pun tak mungkin lagi mencegah. Perpisahan adalah jalan yang disepakati.”

Saya mengambil jeda. “Sambil diminum atuh, mangga..” tawar Ibu, lembut, seraya menyodorkan panganan kecil yang tersedia di meja. Setelah satu teguk, saya menyambung.

“Keputusan cerai sahabat saya ini banyak menuai kekecewaan pengikut atau orang-orang yang selama ini mengaguminya. Bahkan yang mengecam pun ada, dan akhirnya berbalik menjadi haters. Saya termasuk yang kecewa, Bu, terus terang. Saya ndak bisa langsung menanyakan apa persisnya alasan atau apakah ndak ada lagi jalan yang untuk bisa tetap bersatu dan merawat yang sudah dibangun sekian waktu. Mungkin kekecewaan saya sumbernya dari soal kesetiaan dan keseimbangan. Dua hal yang juga saya banyak pelajari awalnya dari sahabat saya ini. Bagi saya, dua hal itu penting sekali. Prinsip. Makanya saya selalu cari cara untuk bisa memaknai kesetiaan dan keseimbangan dengan baik. Dan, sekali lagi, saya sudah belajar banyak dari dia. Tapi…

Saya sempat tak lagi ikuti perkembangan aktivitasnya. Saya belajar di tempat lain. Saya belajar bersama sahabat yang lain. Dengan komunitas yang lain. Sampai ada ketika, saya baca di sebuah media. Wawancaranya terpampang bersama fotonya yang selalu nampak hidup dan bersemangat. Salah satu isi wawancara itu menyinggung soal perceraiannya dengan sang istri.

Mulanya saya ndak punya minat menuntaskan baca seluruh liputan wartawan itu. Namun, pertanyaan soal cerai itu menarik. Pada dasarnya, mungkin saya memang masih menunggu penjelasannya. Kenapa sampai ia memutuskan bercerai. Cerai itu memang halal, tapi yang saya tahu itu salah satu hal yang Allah ndak suka. Bayangkan, kita melakukan sesuatu yang Allah ndak suka, Bu. Dengan sadar dan segala pertimbangan yang kita bikin. Bagaimana bisa menjelaskannya?

Saya baca, saya baca, saya susuri kalimat demi kalimat bijak–seperti biasa–yang diutarakannya. Dan di situ saya tersentak, Bu. Saya sadar, sekali lagi saya dibutakan prasangka. Padahal saya tahu sejak awal, ia dan istrinya sudah berusaha menjaga ikatan mereka. Barangkali karena saya kadung kecewa..

Tapi, bukan sederet alasan yang dibeberkan sahabat saya itu. Melainkan soal hikmah. Saya setuju, dan dia memang cukup bijak untuk tak mengumbar urusan keluarga demi menjaga kehormatan. lagipula memang, bagi sebagian besar orang masalah dalam rumah tangga dipandang ‘aib’.”

Ucapan saya terhenti. Gadis melintas di ruangan kami. Tak berkata apa-apa. Mungkin ia memang hanya perlu melewati ruangan untuk sesuatu keperluan. Ibu masih memandangi saya. Saya menyadari Ibu bahkan tak menoleh sedikitpun kepada gadis yang untuk kedua kalinya berlalu di ruangan itu.

“Punten, Bu, saya lanjutkan.. Begitulah, saya memperoleh kesadaran dari petikan hikmah sabahat saya itu. Saya lupa persisnya, tapi kurang lebih begini kata-kata sahabat saya itu menjawab pertanyaan si reporter soal perceraiannya; “Tak ada yang perlu disesalkan dengan perpisahan saya dan istri. Justru saya merasa mendapat berkah. Dulu, ibu istri saya itu ibu mertua. Sekarang, saya sepenuhnya jadi anak. Bukan lagi mantu. Hubungan kami bahkan lebih dekat. Tak ada yang menghalangi saya untuk terus berkhidmat. Dengan (mantan) istri pun bisa bercengkerama dan bertukar cerita walau statusnya tak lagi menikah.” Kurang lebih begitu, Bu.

Itu cuplikan saja. Wawancaranya panjang. Cuma memang karena alam bawah sadar saya saja yang menunggu-nunggu penjelasan yang cukup memadai soal itu, jadi itu saja yang saya ingat. Hehe.. kepanjangan ya, Bu, cerita saya?”

Ibu, senyum lagi. Giginya terlihat sekarang. “Gapapa..”

“Maaf ya, Bu. Hari ini maksud saya silaturahim adalah ingin bertemu dengan Ibu. Melamar jadi anak Ibu. Benar-benar anak Ibu,” Alis mata Ibu bertaut. Dari santiran jilbab yang dikenakannya, aku juga melihat dahinya mengerut.

“Dua puluh satu tahun saya motherless, Bu. Saya berharap Ibu juga mau menerima saya sebagai anak laki-laki yang tak pernah Ibu lahirkan,” Giliran saya kali ini tersenyum. Dan berdo’a..

Leave a comment