Suatu waktu, seorang psikolog sekaligus pendidik yang kukenal membagi kisahnya. Ia minta anak-anak didiknya membuat tulisan tematik. Mereka diminta menyebutkan orang-orang yang betul-betul dikenal atau minimal pernah bersentuhan dengan kehidupan mereka. Bukan sekedar tokoh atau semacamnya. Lalu, membuat sebuah daftar: “5 Orang yang Paling Pantas Masuk Surga.”
Aku bukan orang pertama yang mempertanyakan metode mengajar yang ia gunakan. Tapi, sebagai seorang psikolog, aku percaya ia selalu punya alasan kuat. Kali ini dia bilang, ingin memantik bagaimana anak-anak didiknya memahami dan menerapkan nilai-nilai yang mereka sudah pelajari. Ah, cerdas.
Dengan senang hati, ia membagi sebagian tulisan-tulisan anak didiknya untuk kubaca. Dari beberapa tulisan itu, ada beberapa yang membuatku salut, tertawa, tergugu, bahkan haru.
Aku tak sempat membaca semua. Sekilas, aku hanya menduga urutan pertama pastilah orang yang paling pantas masuk surga menurut masing-masing penulisnya. Jadi, aku hanya banyak memperhatikan nomor satu dan dua atau tiga dari tiap daftar itu.
Menakjubkan. Cerita-cerita itu sungguh mengagumkan. Takan pernah ada yang menyangka darimana datangnya. Ada yang ‘menominasikan’ ibu yang tak pernah membesarkan dan merawatnya, bahkan tak pernah memberinya senyum. Ada yang menempatkan kakak angkat yang dibesarkan ayah-ibunya sejak kecil di peringkat teratas. Ada juga yang ‘menjagokan’ nenek yang tak pernah dia lihat sosoknya, yang ia tahu hanya dari cerita dari orangtua dan saudara-saudaranya. Banyak lagi.
Aku iri setidaknya untuk 4 hal.Pertama, betapa kerennya mereka mengenal guru dengan keprigelan mengajar seperti itu. Kedua, betapa di umur yang barangkali hanya setengah dari usiaku, mereka punya kecerdasan dan kepekaan jiwa yang tinggi. Ketiga, betapa beruntungnya mereka dapat tumbuh dan berkembang dalam situasi semudah atau serumit apapun. Keempat, tentu saja, aku juga iri pada orang-orang istimewa yang masuk dalam daftar itu.
Ya, akankah ada yang—setidaknya—memasukkanku dalam daftar cadangan mereka? Mungkin di urutan 300 atau 750 besar?
***
Ah, maafkan. Memang bukan itu mestinya yang jadi persoalan. Masuk daftar belum tentu menjamin tiket surga. Ridho Allah pun ndak bergantung pada pengakuan orang.
Memang menyenangkan diingat (dan dido’akan) orang atas dasar kebaikan. Bahkan ketika kita sendiri ndak sengaja melakukannya, namun ternyata kemudian diam-diam orang ada mendo’akan kita. Itulah barangkali muasal atau alasan datangnya rizki atau kemudahan yang tak diduga.
Aku tak pernah menyangka bisa mencapai angka 30 (tulisan ini dibuat beberapa jam sebelumnya, jadi semoga bukan takabur :)). Ibnu ‘Atha illah Askandari (658-709 M) dalam sebuah riwayat pernah berujar, “Demi Allah, sesungguhnya umurmu bukanlah umur yang dihitung sejak engkau lahir, tetapi umurmu adalah umur yang dihitung sejak hari pertama engkau mengenal-Nya.” Aku selalu membayangkan mati di usia muda. Saat bara gairah terpancar jernih di mata dan aktivitas-aktivitas yang kulakukan. Saat tengah mendaki tangga-tangga pencapaian. Saat semua percaya aku bisa meraih atau menjadi apa saja. Saat sedang mesra-mesranya bersama Dia.
Apakah umur panjang sebuah rahmat atau kutukan? Apakah sebuah kesempatan atau istidraj? Beberapa hal dalam hidup ini memang google-proof. Ndak bisa kita cari jawabannya lewat google. Kenapa aku bisa hidup selama 30 tahun sedang yang lain kurang dari itu? Aku ndak tahu. Tak ada yang bisa mengontrol umur meski dengan segala upaya rutin pergi ke gym, yoga, atau mengonsumsi panganan organik.
Saya hampir selalu berusaha meletakkan kendali atas nuansa hidup di tanganku sendiri. Di hati dan pikiranku. Saya hampir selalu berupaya mencegah agar kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan, dan kekhidmatan hidupku ditentukan oleh orang lain. Saya hampir selalu berikhtiar mewujudkan standar yang kutetapkan sendiri, bukan orang lain. Meskipun itu keluarga atau orang terdekatku, misalnya. Saya hanya memaknai bahwa kitalah yang menentukan sikap dan arah layar, lepas dari manapun angin datang.
Di mile-stone ini, saya juga punya memiliki kriteria ‘ideal-30’ yang kubuat sendiri. Beberapa sama dengan ekspketasi umum, lainnya aku pasang ukuran sendiri. Beberapa tercapai, alHamdulillah, sisanya aku harap bisa terwujud dalam waktu dekat. Hidup, entah dengan alasan apa, terasa (kita buat) makin rumit seiring usia.
“Get busy living, or get busy dying,” kata Andy Dufresne (1994). Sepertinya soal sisa hidup memang menukik pada 2 pilihan itu. Memaknai atau melewatkan. Menjalani atau berleha-leha. Mensyukuri atau menyia-nyiakan.
Lalu, apakah aku masih ada berharap bisa masuk dalam daftar-surga itu—jika ada seseorang yang iseng atau serius membuatnya? Kutilik-tilik ternyata ada. Cuma aku lebih memilih untuk mendawamkan “focus to do the best you can” dan mengetahuinya setelah aku mati saja. Toh, sekali lagi, itu bukan daftar yang bisa dipastikan benar-tidaknya lewat google.. 🙂
