Menarik

Dalam perjalanan. Sambil mengendarai ‘Steve’, Ben melihat dari kaca spion dalam.

“Kamu lagi baca apa?”

Kielyr menjawab dengan menunjukkan sampul buku yang sedang dibaca.

“Lolita? Ayah belum kasih tugas itu.”

“Aku loncat pelajaran.” Senyum kemenangan.

Tertegun. Mengangguk kecil. “Dan…?”

Diam sejenak. Mencari kata. Lalu menjawab, “Menarik..”

Terdengar sahutan dan teriakan dari belakang.

“’Menarik!!’”, “Kata Ilegal”, “Yah, Kielyr bilang ‘menarik’”.

Ayah menengahi. Berkata lagi kepada Kielyr, “’Menarik’ itu enggak bermakna. Kamu tahu harusnya kamu nggak pakai itu. (Ayo coba) Lebih spesifik lagi.”

(Captain Fantastic, 2016)

***

Periode awal masuk kampus, agar tidak terlihat kampungan dan mampu mengikuti diskusi yang digelar kawan-kawan penikmat buku, aktivis, atau cendekia lainnya, saya usahakan selalu terlihat manggut-manggut. Aslinya, saya berusaha keras agar tetap bisa terjaga sambil ingat-ingat saja kata-kata sulit dan asing untuk suatu saat saya cari artinya di internet.

Kalau terjebak dalam situasi untuk menanggapi apa yang disampaikan mereka, saya nyaris selalu jawab, “menarik”. Dengan intonasi dan bahasa tubuh yang saya buat se-anggun mungkin.

Kata itu—yang tentu saja saya contek mentah-mentah dari beberapa kawan yang serius paham—saya pilih sebab terdengar elok, elegan. Kalau diucapkan dengan nada dan gaya yang pas, tidak hanya nampak seperti memperhatikan, tapi juga

terkesan benar-benar memahami plus tetap kritis.

Captain Fantastic

Kebiasaan itu nyatanya masih saya bawa-bawa sampai sekarang. Tidak hanya dalam media lisan, terkadang tulisan atau catatan-catatan kecil yang saya buat juga ditaburi dengan kata ‘menarik’. Tentu saja, supaya terdengar dan/atau dibaca menarik.

Sampai beberapa minggu lalu saya memirsa ‘Captain Fantastic’ dan menjumpai dialog yang saya kutip di atas.

Sedikit soal film ini, ia bertutur soal seorang ayah yang mendidik 6 (enam) orang anaknya dengan cara yang diyakininya sendiri. Si ayah berupaya menjaga keempat anaknya dari sesat-pikir dan sesat-tafsir yang lazim diidap awam akibat merajanya nilai-nilai materialisme.

Banyak hal yang baru saya pelajari. Beberapa teman yang juga pernah nonton menyinggung soal tema home-schooling. Yang lain menunjuk tentang lema yang lebih luas seperti cara membesarkan anak. Ada juga yang lebih menyorot benturan pemikiran pada umumnya dengan keyakinan dan/atau idealisme.

Kembali ke soal ‘Menarik’. Tidak ada keterangan secara khusus mengapa kata itu digolongkan ‘pelanggaran’, ‘ilegal’, dan ‘cela’ oleh para tokohnya dalam film itu. Sampai-sampai saat ada siapapun yang memanfaatkannya dalam konteks tertentu, yang lain langsung mem-bully-nya. Cuma disebut, ‘menarik’ itu bukan-sebuah-kata (non-word).

A non-word didefinisikan sebagai kumpulan huruf atau ucapan yang nampak atau terdengar seperti kata tapi sesungguhnya bukan (terjemahan bebas dari kamus Oxford). Jika diucapkan, kata tersebut sulit dimengerti artinya.

Dugaan saya, Sang Ayah, yang diperankan sebagai seseorang yang pintar dan berpikiran progresif oleh Viggo Mortensen, agaknya ingin melatih anaknya agar tidak malas atau mengambil jalan pintas dalam belajar. Setiap anak dituntut untuk mau menyampaikan pikirannya dengan jelas dan utuh tentang apapun yang sudah dipelajarinya. Bukan dengan cukup bilang ‘menarik’. Apalagi buat sekedar menggugurkan kewajiban dalam mengungkapkan pendapat/pemikiran.

Dengan begitu, si anak belajar membangun asosiasi, analisis, berpikir atau merasakan dan mengartikulasikan sesuatu dengan struktur yang lebih lengkap dan rapih.

Bodo Amat

‘Menarik’ adalah kata sifat. Lazimnya dipakai untuk menjelaskan sesuatu. Tapi, semakin sering ‘menarik’ digunakan dalam konteks kekiniaan, ternyata maknanya semakin tidak menarik. Bahkan hilang.

Berkaca kepada diri sendiri, kalau ada seseorang yang mengatakan “menarik” terhadap apa yang saya sampaikan, saya sendiri tidak merasa apa yang saya sampaikan itu benar-benar menarik, apalagi jadi tersanjung. Karena biasanya hampir tidak ada kata atau kalimat lebih lanjut yang mendukung komentar atau pernyataan ‘menarik’ itu.

Pada beberapa kesempatan lain, yang ditangkap malah semacam, “Sabodo teuing ah. Nyaho aing ge. Geus lah ngobrolkeun nu lain..” (Bodo amat lah. Tahu gue. Udah, ngomongin yang lain aja..).

Ini mengingatkan saya. Dalam satu pertemuan di kantor, setelah paparan panjang lebar disampaikan, giliran para peserta rapat diminta untuk menanggapi.

Setelah sejenak jeda, seseorang mengatakan, “Menurut saya, menarik…”

Lalu, krik-krik-krik…

  • Tips: Lain waktu, kalau ada yang ngomong ‘menarik’, kejutkan ia dengan, “Maaf, maksud kamu menarik apa ya? Boleh dijelaskan lagi? Terima kasih.”

Leave a comment